• Kota Singkawang merupakan salah satu pecinaan di indonesia karena mayoritas penduduknya china, dan selebihnya Melayu, Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya.
  • Apa senjata seorang muslim? Jawabannya adalah doa. doa membuat seorang muslim menjadi kuat imannya, menjadi semakin dekat dengan penciptanya, menjadikannya sosok manusia yang tidak sombong atas segala sesuatu yang sudah dimilikinya.Do’a Inilah yang membuat seorang muslim kuat di dunia maupun di akhirat.
  • Seringkali kebaikan seseorang mudah terlupakan oleh kita dan kita hanya mengingat keburukan orang tersebut. Sadarlah wahai saudaraku, janganlah engkau melupakan kebaikan saudaramu hanya karena satu keburukan yang dia lakukan.
  • Sejarah mencatat, tidak ada suatu bangsa di dunia yang dapat tumbuh dan menjadi negara besar dan kuat tanpa fondasi idiologi yang kokoh. “Amerika, China, dan Jepang adalah contoh negara-negara maju di dunia yang memiliki fondasi idiologinya masing-masing yang kokoh.” Ujar puan di hadapan sejumlah calon dubes RI di kementrian Luar Negri, Rabu (11/11/2015)
  • Harapan saya untuk tahun ini ialah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya dalam segala aspek, semoga kita semua bisa memanfaatkan waktu yang di berikan Allah SWT dengan sebaik-baiknya, sehingga kita tidak akan menyesal baik di dunia dan d akhirat.

Rabu, 19 April 2017

Contoh Ceramah Setelah Kesusahan Terbitlah Kemudahan





Segala puji bagi Alah SWT yang telah menciptakan kita dari segumpal darah, dan menjadikan kita sebagai makhluk yang paling sempurna di muka Bumi. Allah menjadikan kita sebagai kholifah/pemimpin di muka bumi, Allah mmberikan berkah/rezeki baik itu dari langit ataupun dari bumi, tidak ada sesuatu apapun yang mampu berbuat seperti Allah, Dialah tempat kita mengadu, tempat kita bersyukur atas segala nikmat yang Dia berikan, dan meniatkan segala bentuk ibadah kita  hanya kepada-Nya.


Dalam hidup yang diberikan oleh Allah SWT ini, kita  pasti tidak luput dari yang namanya masalah. Masalah memang komplek, tergantung dari kita yang menjalani, ada yang punya masalah dalam bidang finansial, masalah keluarga, teman, dan sebagainya, bahkan saking rumitnya masalah tersebut kadang kita menjadi lupa dan putus asa dalam menjalani kehidupan.


Sering kali di antara kita melupakan bahwa masalah itu datangnya dari Allah, Dialah yang medatangkan masalah sebagai bentuk ujian kepada hambanya, dan Dia jugalah yang memberikan jalan keluar bagi masalah tersebut, bahkan Allah sudah meyakinkan lewat Al-Qur’an di dua ayat 5 dan 6 surat Al-Insyirah (94) yang artinya: “maka sesngguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5), sesugguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6)”.


Pengulangan dua kali dalam ayat tersebut merupakan sebuah penegasan akan janji-Nya bahwa memang di balik kesuliatan itu pasti akan datang kemudahan, maka jangan lah khawatir , karena janji Allah selalu nyata.


Dalam menghadapi setiap kesuliatan, jangan kita hanya menanti tanpa sebuah usaha yang di lakukan. Ada beberapa hal yang jangan sampai terlupakan dalam penantian tersebut, yaitu sebaai berikut:


  • Luruskan Niat dan Berdoa’a hanya Kepada Allah
    Untuk memulai aktivitas baik itu pekerjaan atau pun ibadah kita harus meluruskan niat hanya untuk Allah, karena setiap pekerjaan dan ibadah yang kita lakukan pasti ada kesulitan. Oleh karena itu luruskan lah niat serta berdo’alah, maka insyallah pekerjaan apapun yang di kerjaakan ataupun ibadah apapun yang di laksanakan akan di mudahkan oleh Allah SWT, karena kesulitan yang di alami adalah atas dasar kehendak Allah, untuk itu hanya kepada Allahlah di kembalikan segala urusan dan hanya kepada Allahlah kita bisa memohon dimudahkan dengan cara berdo’a.
  • Sholat
    Sholat  adalah bentuk iabdh di mana setiap gerakan dan bacaannya adalah do’a dan sholat juga merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT. Sholat meruapakan titik berhentinya kita dari segala bentuk urusan duniawi, di mana pada saat kita melaksanakan sholat kita bisa melakukan komunikasi curhat kepada sang pencipta, menceritakan segala keluh kesah yang ada kepada Allah baik dalam keadaan susah maupun senang.
  • Sabar dan Ikhlas
    Kunci untuk mendatangkan kemudahan di balik kesulitan ialah harus sabar. Sabar tidak mengenal batas waktu, maka bersabarlah hingga Allah menetapkan ketetapan terabaik, serta ikhlas menerima ketetapan tersebut.
  • Ikhtiar
    Ikhtiar di sini ialah berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapi kesulitan yang ada, bukan berati hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa hanya berharapmasalah tiba-tiba terselesaikan. Perlu adanya ikhtiar semaksimal mungkin untuk menghadapi setaip kesuliatan yang mengahdang.
  • Tawakkal
    Hal terakhir ialah berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha yang maksimal, insyallah Allah akan membantu hambanya yang bertawakkal kepadanya, karena hanya Allahlah yang akan memberikan hasil terbaik dari setiapikhtiar yang di barengi dengan do’a, sabar, serta sholat.


Setiap orang dengan masalahnya masing-masing, ada yang bisa menyelesaikannya ada yang menyerah dan berputus asa, tapi tidak bagi kita seorng muslim yang beriman, kita punya Allah sebagai tempat mengadu atas segala masalah yang menimpa, dan Allah  juga yang membuat masalah-masalah kita terselesaikan dengan mudah,karena Allah adalah yang memberikan kesulitan serta memberikan kemudahan/jalan keluarnya asal kita selalu meluruskan niat, bersabar, sholat, berikhtiar serta bertawakkal hanya kepada Allah SWT semata.

Jumat, 07 April 2017

Membuat Perjalananmu Menjadi Berkah


Safar sering kali kita samakan dengan arti Traveling/Tour, tetapi sejatinya tidak, walaupun safar memliki makna melakukan perjalanan jauh tapi safar mestinya di lakukan karena niat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Safar merupakan kegiatan yang menyenangkan, apalagi karena di niatkan memang untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala contohnya seseorang safar karena berniat untuk berdakwah di negeri yang belum tersentuh dengan cahaya islam, safar yang seperti ini selain menyenangkan juga akan mendapatakan hadiah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Safar yang akan kita bahas ini Jika niat kepergian/safar  Anda adalah untuk sebuah kebaikan, maka kabar gembira untuk Anda dengan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam , artinya: ” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Bila hamba-Ku bertekad melakukan suatu amal kebajikan lalu dia tidak mengamalkannya, Aku tulis baginya satu kebaikan. Bila dia melakukannya Aku tulis baginya 10 kebaikan, hingga 700 kali lipat. Dan bila dia bertekad melakukan suatu keburukan lalu dia tidak mengamalkannya, tidak Aku tulis (keburukan) atasnya. Bila dia melakukannya, Aku tulis baginya satu keburukan’ (HR. Bukhari). Namun, jika yang Anda niatkan bukan kebaikan maka hendaknya Anda berhati-hati dan waspada, karena ketahuilah, kepergian (safar) Anda adalah tercela dan dilarang. Dan perlu diketahui niat tempatnya dihati, tidak perlu dilafazh-kan.


Tidak cukup hanya niat untuk kebaikan semata, safar inipun mestinya di warnai dengan adab-adab safar dalam pandangan islam. Ketika safar sudah dilaksanakan dengan niat yang baik di tambah dengan adab=adab safar menurut pandangan islam, maka Insyallah safar yang anda lakukan menjadi safar yang berkah dan akan berbuah pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berikut adab-adab dalam melakukan safar:


  1. Berpamitan lebih dahulu sebelum melakukan safar
  2. Hindari melakukan safar sendirian
  3. Sunnah mengangkat pemimpin jika melakukan safarnya 3 orang atau lebih
  4. Dilarang membawa anjing dan lonceng dalam safar.
  5. Dilarang bagi wanita safar tanpa ada mahram.
  6. Disunnahkan safar pada pagi hari Kamis.
  7. Hendaklah orang yang bersafar ketika meninggalkan rumahnya berdo’a.
  8. Apabila menaiki kendaraan, hendaklah berdo’a.
  9. Shalat diatas kendaraanya ketika dalam perjalanan.
  10. Doa ketika singgah di suatu tempat.
  11. Hendaklah dia berdoa di dalam safarnya dan memohon kepada Allah Ta’ala kebaikan dunia dan akhirat.
  12. Disunnah-kan ketika safar untuk meng-QASAR-kan (memendekkan) shalatnya.
  13. Disunnahkan untuk tidak puasa bagi yang kepayahan, dan dianjurkan puasa bagi yang mampu.
  14. Disunnahkan bagi musafir untuk segera kembali ke keluarganya setelah selesai urusannya dan tanpa menunda-nunda.
  15. Makruh bagi seorang musafir pulang menjumpai keluarganya di malam hari tanpa menginformasikan sebelumnya.
Berbahagialah anda yang apabila melakukan safar dengan niat yang baik dan melaksanakan adab-adab ketika bersafar di atas, insyallah safar yang anda lakukan akan berbuah pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bertebarlah di muka bumi wahai saudaraku

Rabu, 05 April 2017

SYARAT SYARAT LA ILAAHA ILLALLAH





Kalimat La Ilaaha Illallah tidak hanya memiliki rukun saja tetapi juga memiliki syarat-syarat, dan syarat-syarat kalimat La Ilaaha Illallah ada tujuh, sebagaimana berikut:


  1. Al-Ilm “ilmu/pengetahuan”
    Mengetahui di sini berarti mengharuskan untuk mengakui dengan hati dan mengenal makna (kandungan) yang dituntut untuk diketahui, agar menjadi sempurna ketika mengerjakan konsekwensinya. Mengetahui keesaan Allah adalah fardhu ain bagi setiap manusia. Yakinlah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah SWT Sebagaimaan firman-Nya:
    فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
    “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad 19).
  2. Al-Yaqin
    Sesungguhnya orang-orang Mukmin yang sebenarnya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ada keraguan sedikit pun di dalam hati mereka terhadap apa yang diimaninya, dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Hanya mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman, sebagaimana firman-Nya:
    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat 15)
  3. Al-Ikhlas
    syarat diterimanya amal, yaitu ikhlas karena Allah dan ikhlas dalam menjalnkan tuntutan kalimat Laa Ilaaha Illallah tanpa di campuri syirik. Keduanya ibarat sayap burung, jika salah satunya tidak ada, maka burung tidak dapat terbang. Orang yang ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam amalnya, itulah yang memperoleh apa yang dia harapkan dan yang dia minta. Sedangkan selainnya, maka dia akan rugi di dunia dan akhirat, tidak memperoleh kedekatan dengan Tuhannya dan tidak mendapat ridha-Nya. Sesuai dengan firman-Nya:
    قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
    “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahf 110)
  4. As-Siddiq
    Benar disini ialah benar mengakui bahwa tiada tuhan yang berhak di sembah keculai Allah SWT. Orang yang benar mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya tuhan yang wajib di sembah ialah orang-orang yang beriman. Mereka dikatakan " beriman" karena mereka melaksanakan pengakuan lisan yang dibenarkan oleh hati dan dipraktekkan oleh anggota badan, jika tidak seperti itu sama saja hendak menipu. Sesuai dengan firman-Nya:
    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
    “Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqoroh 8)
  5. Al-Muhabbah
    Cinta terhadap Laa Ilaaha Illallah tanpa membenci sedikitpun dengan apa yang di tuntutkan di dalamnyasebagian manusia yang sesat pikirannya masih saja ada yang menjadikan selain Allah sebagi Tuhan. Mereka menyembahnya seperti menyembah Allah dan memeperlakukannya seperti Allah. Akan tetapi orang yang beriman menerima hanya kepemimpinan Allah semata dan tidak akan terputus ketaatannya pada Allah, sedangkan orang-orang musyrik itu perwalian pada tuhan-tuhan mereka seringkali tergoncang saat mereka ditimpa malapetaka lalu mencari perlindungan kepada Allah Swt. Manusia-manusia yang menganiaya diri mereka sendiri, andai saja tahu siksa yang telah menanti mereka di hari pembalasan ketika segala kerajaan ada pada-Nya, saat semuanya tunduk pada Allah, pasti mereka akan menghentikan kejahatan dan dosa mereka, sebagaimana firman-Nya:
    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
    “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqoroh 165)
  6. Al-qobul
    Menerima di sini ialah menerima setiap ketentuan Laa Ilaaha Illallah tanpa ada penolakan sedikitpun, banyak orang baik di zaman dahulu maupun sekarang andai di bacakan kalimat Laa Ilaaha Illallah mereka mengingkari dan tidak menerima dan mereka ini di kategorikan sebagai orang yan sombong.  sesuai dengan firman-Nya:
    إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
    ”Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.” (QS. As-Saffat 35)
  7. Al-Hamlu Bimuktadhoyaatiha
    Syarat terakhir ialah bagian melaksanakan, setelah kita mengetahui, yakin, ikhlas, cinta, dan menerima semua ketentuan Laa Ilaaha Illallah maka kita harus juga melaksanakan semua ketentuan-ketentuannya, karena orang yang memiliki iman atau keyakinan kepada Allah SWT tidak hanya mengucapkan dengan lisan tetapi mempraktekkan dengan anggota badan misalnya ibadah-ibadah seperti sholat, zakat, infak, Dll. Apabila seseorang sudah mantap dengan syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah dan melaksanakan semua tuntutannya maka segala urusannya akan di permudah dan di bantu oeh Allah SWT. Sesuai dengan firman-Nya:
    وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
    “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman 22)

RUKUN LA ILAAHA ILLALLAH





Inti ajaran islam adalah La Ilaaha Illallah yang berarti tidak ada sesembahan yang haq selain Allah SWT. Oleh karena itu kalimat La Ilaaha Illallah memiliki dua rukun:


  1. An-Nafyu
    An-Nafyu mafhumnya meniadakan peribadahan (syirik) dari segala sesuatu selain Allah. Perihal ini direalisasikan dengan meyakini bathil-nya beribadah kepada selain-Nya, kemudian meninggalkannya, membencinya (karena pelakunya memasuki kekafiran), serta memusuhinya.


  • An-Nafs “tuhan hawa nafsu”
    Banyak orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan, bukan berarti mereka menyembah hawa nafsu, tetapi bagaimana mereka menempatkan hawa nafsu tersebut layaknya tuhan, mereka lebih mementingkan urusan nafsu daripada urusan akhirat, inilah yang menyebabkan mereka seperti bertuhan bukan kepada Allah SWT tetapi kepada hawa nafsu itu sendiri, sesuai dengan firman Allah SWT:
    أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
    “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqon 43)
  • Al-Ashnaam “Patung-patung dan Berhala”
    Sejak zaman dahulu Patung-patung dan Berhala memang sudah sering di jadikan sesembahan selain Allah SWT, banyak dari mereka membuat patung-patung/Berhala yang berbentuk orng yang sudah mati dan menyembah mereka. Walaupun mereka menyembah patung-patung tersebut tetapi patung-patung tersebut tidak bisa memberikan manfaat apapun, karena yang hanya bisa memberikan manfaat dan mengabulkan doa hanyalah Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah (ASY-Syuara 69-76) firman Allah SWT tersebut menceritakan kisah kaum Nabi Ibrahim yang menjadikan berhala sebagai sesembahan, tetapi berhala tersebut tdk bisa memberikan manfaat sama sekali, dan bagaiman kaum Nabi Ibrahim tetap bersikukuh untuk menyembah berhala-berhala yang tidak memberikan manfaaat tersebut.
  • Al-Jin dan Al-Mala’ikat “Jin dan Malaikat”
    Jin dan Malaikat adalah dua sosok yang sering di ceritakan di dalam Al-Qur’an, mereka ada dan di ciptakan oleh Allah SWT seperti manusia tetapi berbeda asal penciptaannya, Jin di ciptakan dari api, Malaikat di ciptakan dari cahaya, sedangkan Manusia diciptakan dari tanah, kita manusia di ciptakan Allah SWT sebagai kholifah di muka bumi, sedangkan maaikat adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling patuh dan setia kepada Allah SWT, dan yang terakhir adalah Syaitan/Jin yang di jadikan Allah SWT sebagai penghuni neraka. Sebagaian manusia ada yang menjadikan Jin ataupun Malaikat sebagai tuhan, padahal Jin dan Malaikat hanyalah makhluk yang sama-sama di ciptakan oleh satu tuhan yaitu Allah SWT walaupun memang makhluk yang bernama Jin adalah makhluk yang ingin menyesatkan Manusia agar menjadikan mereka (jin) sebagai tuhan supaya manusia jauh dari Allah SWT dan masuk nerakanya Allah SWT karena melakukan syirik. Mari simak Firman Allah SWT:
    “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu? (40) Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (QS. Saba 40-41)
  • Al-Anbiya’ “Nabi-nabi”
    Tidak dapat diterima akal dan tidak akan sampai hati, seorang nabi yang menerima wahyu dan ilmu pengetahuan dari Allah serta berbicara tentang Allah, untuk meminta orang lain menyembahnya, bukan menyembah Allah. Yang dapat diterima akal dan sesuai dengan kenyataan adalah bahwa nabi meminta orang lain menyembah Allah SWT yang menciptakan mereka, dengan penuh ketulusan sesuai dengan ilmu yang telah diajarkan dan mereka pelajari dari kitab. Sesuai dengan Firman Allah SWT:
    مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
    “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran 79)
  • At-Thogut
    Thoghut itu pengertiannya umum. Setiap apa yang diibadahi selain Allah dan dia rela dengan peribadahan itu, baik berupa sesuatu yang disembah atau diikuti atau ditaati selain ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, adalah Thoghut. Sesuai dengan Firman Allah SWT :
    لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
    “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh 256)
  • Ar-Rohban dan Al-Ahbaar “orang-orang Alim”
    Manusia menjadikan para pemuka agama sebagai tuhan-tuhan yang menentukan syariat bagi mereka. Perkataan merekapun-meski menyalahi sabda Rasul-dijadikan sebagai agama. Lalu mereka mengikuti kebatilan para pemuka agama itu dan menyembah Al Masih putera Maryam. Allah telah menyuruh mereka di dalam Kitab-kitab-nya dengan perantaraan Rasul-rasul-Nya agar mereka tidak menyembah kecuali hanya satu Tuhan, karena sesungguhnya tidak ada yang patut disembah dalam pandangan agama dan akal kecuali Tuhan Yang Mahaesa. Mahasuci Allah untuk disekutukan dalam ibadah dan penciptaan serta sifat- sifat-Nya. Sesuai dengan firman Allah SWT:
    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah 31)


  1. Al-itsbat
    Al-Itsbat mafhumnya menetapkan peribadahan hanya kepada Allah, dengan mengarahkan semua bentuk peribadahan kepada-Nya. Sesuai firman Allah SWT :
    وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
    “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al-Anbiya)
    Ayat Allah SWT yang mulia ini menjelaskan bahwa risalah yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul adalah satu, yang menjadi inti dakwah mereka. Yaitu menyeru umatnya untuk beribadah hanya kepada Allah SWT dan meninggalkan segala jenis peribadahan kepada selain-Nya.


 


 


 

Contoh Biografi Seorang Ayah





Lelaki yang sedang sholat tahajjud itu berusia sekitar empat puluhan, dengan tatapan khusu’ ke tempat sujud beliau melaksanakan salah satu sholat sunnah itu,banyak orng ketika waktu seperempat malam seperti ini masih terlelap dalam tidur, masih bergelut di dalam selimut menikmati mimpi-mmpi indah mereka, tetapi  berbeda dengan lelaki yang umurnya sudah mencapai kepala empat ini, bagi beliau sholat tahajjud yang sedang dia laksanakan ini adalah proses menuju kesuksesan. “Manusia tidak bisa sukses hanya dengan kerja keras semata, tetapi perlu di imbangi dengan do’a.” imbuh beliau.


Mat Saleh, begitulah nama lengkap lelaki yang ku anggap sebagai motivator dalam hidupku. Beliau lahir pada tanggal 18 April 1986 di Singkawang. Menikah pada tanggal 28 Agustus 1997 dengan seorang wanita yang cantik dan penuh dengan rasa tanggung jawab bernama Emi Miswati. “Dia” yang kini sebagai ibu rumah tangga  sekaligus Ibu yang sangat ku hargai dan sangat kucintai. Mereka  di keruniai 3 orang anak, pertama Aku (Muhammad Thoyyibi), anak ke2 (Fathurrahman Ar-Rasyid), dan anak yang terakhir kalau Abi belum ada rencana ingin mempunyai anak lagi, bernama (Iffah Nazhifah).


Lelaki yang biasa ku panggil Abi  tersebut duduk melepas lelah sambil menikmati angin sepoi-sepoi di depan rumah. Sungguh bangga aku melihat Abi, mendengar kisah hidupnya yang penuh dengan lika liku kehidupan, membuatku merasa bahwa menyerah adalah hal paling bodoh yang di lakukan oleh seorang manusia.


Sejak kecil Abi terbiasa hidup mandiiri dengan keluarga yang tingkat perekonomiannya cukup, membuat Abi bisa menempuh jenjang pendidikan dari SD-MTs-Ma sampai ke jenjang perguruan tinggi (S1) sampai pada tingkat pasca sarjana (S2). Orang tua beliau sangat mengutamakan pendidikan agama ke pada beliau beserta saudara-saudaranya, walauapun kecilnya beliau belajar di SD tetapi beliau juga tetap mengenyam pendidikan agama dengan berguru ke kiyai  yang memang bersedia mengajarkan ilmu agama dan mengaji. Supaya bisa berguru kepada kiyai tersebut, beliau harus rela berjalan kaki sekitar 3 kilo dari rumah, di tambah dahulu akses jalan tidak sebagus sekarang, masih banyak hutan dan apabila malam hari tidak ada penerangan jalan, sehingga apabila beliau mau pulang malam hari harus menyediakan obor sebagai penerang jalan. Begitupun setelah beliau lulus SD, beliau langsung melanjutkan pendidikan di MTsn di lanjutkan dengan MAnya di sebuah pesantren, Pesantren Ushuludin namanya, beliau juga termasuk murid yang pintar “Abi dari kecil selalu mendapatan ranking satu di kelas.” Kata beliau kepadaku. Kata-kata tersebut membuatku termotivasi untuk selalu mengejar peringkat satu di kelas, belajar dengan tekun dan tidak lupa untuk selalu berdoa serta ta’at kepada orang tua adalah kuncinya, walaupun di iming-iming dengan uang jajan juga hehe.


Abi d kenal sebagai orang yang tegas dan disiplin, apalagi prihal ibadah, beliau sangat ketat mengawasi kami anak-anaknya agar selalu ta’at beribadah dan selalu tepat waktu, tapi bukan hanya ibadah wajib, ibadah-ibadah sunnah juga beliau perhatikan misalnya sholat tahjjud, beliau pasti membangunkan kami anak-anaknya tepat jam 3 malam supaya melaksanakan sholat tahjjud. Tidak hanya kami anak-anaknya, para santri juga sangat beliau tekankan agar melaksanakan sholat tahajjud ketika beliau masih menjadi  Mudir di Ponpes Al-Fatah Singkawang, sholat tahajjud pun di wajibkan bagi seluruh santri.


Abi adalah orang yang menjadi motivatorku dalam hal belajar, karena  beliau berhasil menyelesaikan jenjang pendidkan sampai S2 jadi gelar abi sekarang adalah Magister/Master. “Bang, Abi sekarang sudah menyelesaikan S2, kamu jangan sampai berakhir hanya S1 kamu harus bisa melebihi Abi sampai S3.” Pesan beliau kepadaku ketika aku baru lulus MA di Pesantren Al-Fatah. Pesan beliau itulah yang membuat aku termotivasi untuk memenuhi harapan beliau. Untuk memenuhi harpan beliau aku pun ikut merantau juga mengikuti jejak beliau pada saat masih muda, ketika beliau masih muda, untuk menyelesaikan serjana (S1) beliau juga merantau ke jawa, karena itulah aku berfikir untuk ikut merantau juga.


Banyak pelajaran yang dapatku ambil dari Abi, tidak bisa ku sebutkan semua di dalam artikel ini tapi satu yang paling berkesan adalah ketika aku melhat Abi sebagai kepala rumah tangga yang penuh dengan rasa tanggung jawab, bagaimana beliau mendidik kami begitu tegas dan disiplin, bagaimana dia memenuh semua permintaan anak-anaknya yang beraneka ragam tetapi tidak pernah mengeluh walaupun kadang sedang dalam kondisi ekonomi yang sulit dan bagaimana beliau melindungi dan mengayomi keluarganya. Harapanku sebagai anak yang paling tua sangat ingin memperlihatkan  kepada  Abi bahwa  anak-anaknya ini terutama Aku sebagai anak yang pertama  insyallah akan  menjadi anak yang sholeh dan sukses baik di dunia maupun di Akhirat kelak.





Selasa, 21 Maret 2017

Bani Abbasyiah dan Masa Kejayaannya



 Oleh: Muhammad Thoyyibi
BAB 1
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga saya dapat memproses menjalankan tugas yaitu membuat sebuah makalah yang sederhana tapi dengan harapan dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan bagi kita semua.
Pemerintahan Abbasiyah adalah berketurunan daripada al Abbas,paman Nabi SAW. Pendiri kerajaan al Abbas adalah Abdullah as Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al Abbas, dan pendiriannya dianggap suatu kemenangan bagi idea yang dianjurkan oleh kalangan bani Hasyim setelah kewafatan Rasulullah SAW. Agar jabatan khalifah diserahkan kepada keluaga Rasul dan sanak saudaranya.Tetapi idea ini telah dikialahkan pada zaman permulaan islam dimana pemikiran islam yang sehat menetapkan bahwa jabatan khalifah itu adalah milik kepunyaan seluruh kaum Muslimin, dan mereka berhak melantik siapa saja antara kalangan mereka untuk menjadi ketua setelah mendapat dukungan. Tetapi orang-orang Parsi yang masih berpegang kepada prinsip hak ketuhanan yang suci,terus berusaha meyebarkan prinsip tersebut,sehingga mereka berhasil membawa Bani Hasyim ke tampuk pemerintahan.
Semoga Allah SWT memberi keridhaan atas pembuatan makalah sejarah kebudayaan islam tentang masa keemasan bani abbasiyah ini dan dapat menyumbang pengetahuan serta dapat berfaedah bagi kita semua amin.

2.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimana Latar belakang Dinasti Abbasiyah ?
b.      Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Abbasiyah ?
c.       Siapakah para Khalifah yang mencapai keemasan ?
d.      Apa saja faktor – faktor keberhasilan Bani Abbasiyah ?
e.       Siapa sajakah Tokoh intelektual muslim yang muncul ?

3.      Tujuan
a.       Untuk mengetahui latar belakang Dinasti Abbasiyah
b.      Untuk mengetahui perkembangan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah
c.       Untuk mengatahui para khalifah yang membawa Dinasti Abbasiyah mencapai keemasan
d.      Untuk mengetahui faktor-faktor keberhasilan Dinasti Abbasiyah
e.       Untuk mengetahui tokoh-tokoh intelektual muslim yang muncul dari Dinasti Abbasiyah








BAB 2
PEMBAHASAN
1.      Latar Belakang Dinasti Abbasiyah
Nama Dinasti Abbasiyah diambilkan dari nama salah seorang dari paman Nabi Muhammad SAW. Yang bernama al-Abbas ibn Abd al-Muttalib ibn Hasyim. Orang Abbasiyah merasa lebih berhak dari pada Bani Umayyah atas kekhalifahan islam, sebab mereka adalah dari cabang Bani Hasyim yang secara nasab keturunan lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW.
Pemerintahan Bani Umayyah adalah pemerintahan yang mempunyai wibawa yang besar, meliputi wilayah yang luas, Mulai dari wilayah Sind dan berahir di Spanyol. Namun hanya Dinasti ini hanya bisa bertahan kurang dari 1 abad karena kurang mendapat simpati dari rakyatnya. Hal ini yang menyebabkan munculnya Dinasti Abbasiyah.

2.      Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Abbasiyah
a.       Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Proses berdirinya Dinasti Abbasiyah ini diawali dari tahap persiapan dan perncanaan yang dilakukan oleh Ali ibn Abdullah ibn Abbas, seorang zahid yang hidup pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Persiapan yang dilakukan Ali adalah melakukan propaganda terhadap umat islam (utamanya Bani Hasyim).
Propaganda Muhammad ibn Ali mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat karena beberapa faktor yaitu meningkatnya kekecewaan kelompok mawali terhadap Dinasti Bani Umayyah karena selama Dinasti ini berkuasa mereka ditempatkan pada posisi kelas dua dalam sistem sosial sementara orang-orang Arab menduduki kelas bangsawan, pecahnya persatuan antar suku bangsa Arab dengan lahirnya fanatisme kesukuan antara Arab utara dengan Arab selatan, timbulnya kekecewaan kelompok agama terhadap pemerintahan yang sekuler karena mereka menginginkan pemimpin negara yang memiliki pengetahuan dan integritas keagamaan yang mumpuni, perlawanan dari kelompok Syiah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan yang pernah dirampas oleh Bani Umayyah karena mereka tidak mudah melupakan peristiwa tersebut.
Sebelum menggulingkan kekuasaan Dinasti Umayyah, para keluarga Abbas melakukan berbagai persiapan dengan melakukan pengaturan strategi yang kuat dan persiapan yang matang juga dukungan yang kuat dari masyarakat. Oleh karena itu sangat diperlukan pemikiran matang dan strategi yang dapat memperhitungkan keadaan untuk melakukan gerakan propaganda tersebut.
Ali bin Abdullah bin Abbas kemudian digantikan anaknya Muhammad bin Ali.Pada masa Muhammad bin Ali ini, usaha mendirikan dinasti Abbasiyah semakin meningkat dengan memperluas gerakan antara lain kota Al-Humaymah sebagai pusat perencanaan dan organisasi Kufah sebagai kota penghubung dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis. Setelah Muhammad bin Ali wafat, beliau digantikan oleh anaknya Ibrahim Al-Imam guna mempertahankan wilayahnya beliau mengangkat panglima perang Abu Muslim al-Khurasan dan berhasil merebut Khurasan dan mencapai kemenangan. Setelah beliau wafat, perjuangannya diteruskan oleh adiknya yaitu Abu Abbas bin Muhammad bin Ali,beliau ingin merangkul kekuatan dari keluaga lain yaitu Bani Hasyim dan kaum Alawiyin yang tidak pernah mendapat perhatian dan dikucilkan oleh Dinasti Umayyah.
Dengan bergabungnya Bani Hasyim dan Kaum Alawyin maka gerakan Abu Abbas menjadi kekuatan yang ditakuti oleh Bani Umayyah,melihat posisinya semakin terpojok akhirnya Marwan bin Muhammad penguasa terakhir Dinasti Bani Umayyah menyelamatkan diri dari kejaran massa menuju ke wilayah Mesir tepatnya di Fustad, disitulah dia mati terbunuh pada tahun 132 H/750 M. Terbunuhnya Khalifah terakhir Bani Umayyah ini menandai era baru dalam perjalanan sejarah pemerintahan islam, kemudian kekuasaan pindah ke tangan penguasa baru yaitu para penguasa yang berasal dari keturunan Hasyim atau keturunan Abbas kemudian Dinasti ini disebut dengan Dinasti Abbasiyah.

b.      Peta Wilayah Islam
Pada masa daulah Bani Abbasiyah ini wilayah islam sangat luas,meliputi wilayah yang dikuasai oleh Bani Umayyah antara lain Saudi Arabia, Yaman Utara, Yaman Selatan, Oman, Uni Emirat, Arab, Quait, Iraq, Iran, Yordania, Palestina (Israel), Libanon, Mesir, Libia, Tunisia, az-Zajair, Maroko, Spanyol, Afganistan, Pakistan.
Sikap politik daulah Abbasiyah berbeda dengan daulah Bani Umayyah sebab dalam daulah Bani Abbasiyah pemegang kekuasaan lebih merata, bukan hanya dipegang oleh bangsa Arab, tetapi lebih demokratis melihat bahwa kekuasaan itu harus dibagi-bagi dalam segala kekuatan masyarakatnya, maka bangsa Persia juga diberi kekuasaan begitu juga bangsa Turki dan lainnya.
c.       Pemerintahan Bani Abbasiyah
Pemerintahan Bani Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khalifah Umayyah dimana pendiri dari khalifah ini adalah keturunan Al-Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Yaitu Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-Abbas dimana pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya.
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode :
·         Periode pertama (132-232 H/750-847 M), disebut periode pengaruh Arab dan Persia pertama.
·         Periode kedua (232-334 H/847-945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama.
·         Periode ketiga (334-447 H/945-1055 M), Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
·         Periode keempat (447-590 H/1055-1194 M), disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
·         Periode kelima (590-656 H/1194-1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.

3.      Khalifah – Khalifah Bani Abbasiyah
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul kokoh dan merupakan pusat kekuasaan, politik, dan agama.Disisi lain kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi.Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai keemasan dibawah pimpinan Al-Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid,al-Ma`mun, Al-Mu`tashim, Al-Wasiq dan Al-Mutawakil.
a.       Al-Mahdi (775-785 M)
Al-Mahdi dilahirkan di Hamimah pada tahun 126 H. Sewaktu ayahnya Al-Mansur mulai menjadi khalifah, Al-Mahdi berusia 10 tahun dan Isa bin Musa sebagai putra mahkota bakal pengganti Al-Mansur menurut perjanjian yang dibuat oleh Abul Abbas As-Saffah,tetapi Al-Mansur berniat untuk mencalonkan anaknya menjadi penggantinya kelak. Karena itu beliau mengambil langkah-langkah untuk mengasuh dan mengajarnya tentang kepahlawanan dan cara-cara memimpin tentara.
Ketika Al-Mahdi menjadi khalifah, negara telah dalam keadaan stabil dan mantap, dapat mengendalikan musuh-musuh dan keuangannya pun telah terjamin. Karena itu zaman pemerintahan Al-Mahdi terkenal sebagai zaman yang makmur dan hidup dalam kedamaian. Al-Mahdi telah memerintah supaya dibangun beberapa buah bangunan besar di sepanjang jalan yang menuju ke Makkah sebagai tempat persinggahan para musafir,memerintahkan supaya dibuat kolam-kolam air untuk kepentingan kelompok-kelompok kafilah dan hewan-hewan mereka dan mengadakan hubungan pos di antara kota Bagdad dan wilayah-wilayah islam yang terkemuka.
b.      Al-Hadi (775-786 M)
Al-Hadi adalah khalifah pengganti Al-Mahdi yang merupakan anaknya sendiri, pada tahun 166 H Al-Mahdi melantik pula anaknya yang seorang lagi yaitu Harun Ar-Rasyid sebagai putra mahkota bakal pengganti Al-Hadi.Kalau Al-Mahdi wafat, Al-Hadi dilantik menjadi khalifah yang menggantikannya secara resmi.
Khalifah Al-Hadi ialah khalifah yang tegas, walaupun beliau gemar berhibur dan bersenda gurau, tetapi semua itu tidak melalaikannya dari memikul tanggung jawab.
Seperti yang telah diketahui khalifah Al-Hadi adalah seorang yang berhati lembut, berjiwa bersih, berakhlak baik, baik tutur katanya, senantiasa berwajah manis dan jarang menyakiti orang.
c.       Harun ar-Rasyid (785-809 M)
Harun ar-Rasyid dilahirkan di Raiyi pada tahun 145 H, ibundanya adalah Khaizuran, bekas seorang hamba yang juga ibunda Al-Hadi. Beliau telah dibesarkan dengan baik sewaktu beliau diasuh agar berpribadi kuat dan berjiwa toleransi. Ayahanda beliau Al-Mahdi telah memikulkan beban yang berat, bertanggung jawab memerintah negeri dengan melantik beliau sebagai amir di Saifah pada tahun 163 H.Pada tahun 164 H beliau dilantik memerintah seluruh wilayah Anbar dan negeri-negeri di Afrika Utara.Harun Ar-Rasyid telah melantik pula beberapa orang pegawai tinggi, mewakili beliau di kawasan-kawasan tersebut.
Pribadi dan akhlak Khalifah Harun Ar-Rasyid adalah baik dan mulia yang menyebabkan beliau sangat dihormati dan disegani. Beliau adalah salah seorang khalifah yang suka bercengkrama, alim dan dimuliakan. Selain itu, beliau juga terkenal sebagai seorang pemimpin yang pemurah dan suka berderma. Beliau juga menyukai musik, ilmu pengetahuan dan dekat dengan para ulama serta penyair.
Pada zaman pemerintahan Harun Ar-Rasyid, Baitul Mal ditugaskan menanggung narapidana dengan memberikan setiap orang makanan yang cukup serta pakaian musim panas dan musim dingin.Sebelum itu khalifah Al-Mahdi juga berbuat demikian tetapi dengan nama pemberian, sementara Khalifah Harun Ar-Rasyid menjadikannya suatu tugas  dan tanggung jawab Baitul Mal.
Khalifah Harun Ar-Rasyid mampu membawa negeri yang dipimpinnya ke masa kejayaan, kemakmuran dan kesejahteraan. Berikut usaha Harun ar-Rasyid selama masa pemerintahannya:
·         Mengembagkan bidang ilmu pengetahuan dan seni.
·         Membangun gedung-gedung dan sarana sosial.
·         Memajukan bidang ekonomi dan industri.
·         Memajukan bidang politik pertahanan dan perluasan wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
d.      Al-Ma`mun (813-833 M)
Nama lengkap khalifah ini adalah Abdullah Abdul Abbas Al-Ma`mun, adalah anak dari Khalifah Harun Ar-Rasyid yang dilahirkan pada tanggal 15 Rabiulawal tahun 170 H/786 M.Kelahirannya bertepatan dengan wafat kakeknya yaitu Musa Al-Hadi,juga bersamaan dengan waktu ayahnya diangkat menjadi khalifah. Adapun ibunda al-Ma`mun adalah seorang bekas hamba sahaya yang bernama Marajil. Selain sebagai seorang pejuang yang pemberani beliau juga sebagai seorang pengusaha yang bijaksana. Semangat berkarya, bijaksana, pengampun, adil, cerdas merupakan sifat-sifat yang menonjol dalam pribadi Al-Ma`mun.
Khalifah Abdullah Al-Ma`mun selama menjabat sebagai pemimpin Daulah Abbasiyah telah berusaha melakukan perbaikan-perbaikan hal-hal sebagai berikut :
·         Menghentikan berbagai gerakan pemberontakan untuk menciptakan stabilitas dalam negeri.
·         Penertiban administrasi negara untuk penataan kembali sistem pemerintahan.
·         Pembentukan badan negara.
·         Pembentukan Baitul Hikmah dan Majlis Munazarah.
Lembaga Baitul Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan (Daur Al-kutub), yang tampaknya juga aktif disana para guru, para ilmuan, disamping aktivitas Penerjemahan, penulisannya dan penjilidannya.
e.       Al-Mu`tashim (833-842 M)
Abu Ishak Muhammad Al-Mu`tashim lahir pada tahun 187 H. Ibunya bernama Maridah. Beliau dibesarkan dalam suasana ketentaraan,karena sifat berani dan minatnya untuk menjadi pahlawan. Di masa pemerintahan Al-Ma`mun, Al-Mu`tashim merupakan tangan kanannya dalam menyelesaikan kesulitan dan memimpin peperangan. Al-Ma`mun juga melantik Al-Mu`tashim sebagai pemerintah di negeri Syam dan Mesir,kemudian melantiknya pula sebagai putra mahkota. Al-Mu`tashim menyandang jabatan khalifah sesudah wafatnya, al-Ma`mun.
Khalifah pindah bersama korp-korps kayangannya ke Samara. Di sana beliau mendirikan istana, masjid dan sekolah-sekolah.Tidak lama kemudian Samara mulai megah seperti Baghdad, tetapi beliau tidak pernah menggantikan Baghdad sebagai pusat intelektual yang besar. Hal ini juga didukung oleh kondisi perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini berkembang dengan pesat, bukan hanya ilmu pengetahuan umum tetapi ilmu pengetahuan agama.
f.       Al-Watsiq (842-847 M)
Al-Watsiq dilahirkan pada tahun 196 H, ibunya keturunan Roma bernama Qaratis. Al-Watsiq berperibadi luhur, berpikiran cerdas dan berpandangan jauh dalam mengurus segala perkara. Bapaknya telah memberinya kekuasaan di Baghdad, ketika Al-Mu`tashim berpindah ke Samara bersama-sama dengan angkatan tentaranya kemudian melantiknya sebagai putra mahkota bakal khalifah. Al-Watsiq telah menyandang jabatan khalifah setelah wafatnya Al-Mu`tashim ayahnya.
Al-Watsiq adalah penguasa yang sangat cakap, pemerintahannya mantap dan penuh perhatian, beliau banyak memberikan uang dan menolong ilmu pengetahuan sepenuhnya, industri maju dan perdagangan lancar.
g.       Al-Mutawakkil (847-861 M)
Ja`far Al-Mutawakil adalah putra Al-Mu`tasim Billah (833-842) dari seorang wanita persia. Beliau menggantikan saudaranya Al-Watsiq. Selama masa pemerintahannya Al-Mutawakil menunjukkan rasa toleran terhadap sesama. Al-Mutawakkil mengandalkan negarawan Turki dan pasukannya untuk meredam pemberontakan dan memimpin pasukan menghadapi pasukan asing. Al-Mutawakkil wafat pada tanggal 11 Desember 861 M.
4.      Faktor-Faktor Keberhasilan Bani Abbasiyah
Bani Abbasiyah mencapai puncak keemasannya karena terdapat beberapa faktor diantaranya adalah :
·         Islam makin meluas tidak di Damaskus tetapi di Baghdad.
·         Adanya perkembangan ilmu pengetahuan.
·         Dalam penyelenggaraan negara pada masa Bani Abbasiyah ada jabatan wazir.
·         Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia dan berharga.Para khalifah membuka kesempatan pengembagan pengetahuan seluas-luasnya.
·         Rakyat bebas berpikir serta memperoleh hak asasinya dalam segala bidang.
·         Daulah Abbasiyah,berbakat  usaha yang sungguh-sungguh membangun ekonominya.Mereka memiliki pembendaharaan yang berlimpah-limpah disebabkan penghematan dalam pengeluaran.
·         Para khalifah banyak mendukung perkembangan ilmu pengetahuan sehingga banyak buku-buku yang dikarang dalam berbagai ilmu pengatahuan,serta buku-buku pengetahuan berbahasa asing diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
·         Adanya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, asimilasi itu berlangsung efektif dan bangsa-bangsa tersebut memberi saham pengetahuan yang bermanfaat.
5.      Lahirnya Tokoh Intelektual Muslim
a.       Bidang Filsafat
·         Al-Khindi (811-874 M)
·         Al-Farabi (870-950 M)
·         Ibnu Sina (980-1037 M)
·         Ibnu Bajjah (453-523 H)
·         Ibnu Rusydi (529-595 H)
·         Ibnu Thufail (225-287 H)
·         Al-Ghazali (1058-1111 M)
b.      Bidang Kedokteran
·         Ibnu Sina (980-1037 M)
·         Ar-Razi (194-264 H)
·         Ibnu Baytsar (810-878 M)
c.       Bidang Matematika
Dalam bidang ini salah satu ahlinya adalah Al-Khawarizmi.Buku pertamanya adalah Al-Jabar (buku pertama yang membahas solusi sistematik dari lnier dan notasi kuadrat),sehingga beliau disebut sebagai Bapak Aljabar. Kata aljabar berasal dari kata aljabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat.
6.      Kesimpulan
Dinasti Abbasiyah adalah bentuk kekuasaan pemerintahan yang bekerja meneruskan pemerintahan Bani Umayyah.Disebut Abbasiyah karena para perancang dan pendirinya adalah keluarga Abbas (Bani Abbas) bin Abdul Mhuthalib yang merupakan paman Nabi Muhammad SAW.
Dinasti Abbasiyah merupakan imperium islam yang pertama kali mencapai kemajuan yang sangat pesat di dalam ilmu pengetahuan dan sains. Hal ini terjadi karena para khalifahnya sangat peduli dan perhatian terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.Usaha awal dimulai dari dibangunnya berbagai lembaga keilmuan seperti kuttub, masjid, madrasah, majlis munazarah dan yang paling mendukung adalah dibangunnya Baitul Hikmah sebagai pusat penerjemah, perpustakaan, penelitian, serta perguruan islam yang mampu memunculkan para ilmuan islam atau tokoh intelektual muslim.
Para pemimpin pada masa bani Abbasiyah mempunyai kesadaran ilmu yang sangat tinggi, hal ini ditunjukkan masyarakatnya yang antusias dalam mencari ilmu, penghargaan yang tinggi bagi para ulama, para pencari ilmu, tempat – tempat menuntut ilmu, banyaknya perpustakaan – perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum yang dibangun oleh para khalifah pada waktu itu, tradisi intelektual inilah yang seharusnya kita contoh sebagai usaha sadar keilmuan kita dalam mengejar ketertinggalan dan segera  lepas dari keterpurukan.
Perkembangan dan kemajuan Daulah Abbasiyah memberikan pelajaran yang sangat berharga akan pentingnya persatuan dan kesatuan masyarakat demi tercapainya pertahanan dan keamanan sebuah pemerintahan islam agar dapat dengan tenang dalam menciptakannya.

BAB 3
PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat saya buat semoga dapat bermanfaat bagi yang membacanya amiin dan saya yakin makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk makalah selanjutnya. Jika ada kesalahan saya mohon maaf dan atas perhatiannya saya mengucapkan Jazakumullah.
DAFTAR PUSTAKA

·         Asnawi,Muh,Sejarah Kebudayaan Islam,Semarang:CV.Aneka Ilmu,2009
·         Ismiyatun,Sejarah Kebudayaan Islam,Madrasah Tsanawiyah
·         Yatim,Badri,Sejarah Kebudayaan Islam,Semarang:-,1996