Al-Ilm “ilmu/pengetahuan”
Mengetahui di sini berarti mengharuskan
untuk mengakui dengan hati dan mengenal makna (kandungan) yang dituntut untuk
diketahui, agar menjadi sempurna ketika mengerjakan konsekwensinya. Mengetahui
keesaan Allah adalah fardhu ain bagi setiap manusia. Yakinlah bahwa tidak ada
tuhan yang berhak disembah selain Allah SWT Sebagaimaan firman-Nya:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ
لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah
(sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi
(dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat
kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad 19).
Al-Yaqin
Sesungguhnya orang-orang Mukmin yang
sebenarnya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian
tidak ada keraguan sedikit pun di dalam hati mereka terhadap apa yang
diimaninya, dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Hanya mereka
itulah orang-orang yang benar-benar beriman, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah
orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka
tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka
pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat 15)
Al-Ikhlas
syarat diterimanya amal, yaitu
ikhlas karena Allah dan ikhlas dalam menjalnkan tuntutan kalimat Laa Ilaaha
Illallah tanpa di campuri syirik. Keduanya ibarat sayap burung, jika salah
satunya tidak ada, maka burung tidak dapat terbang. Orang yang ikhlas dan
mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam amalnya, itulah yang memperoleh apa yang
dia harapkan dan yang dia minta. Sedangkan selainnya, maka dia akan rugi di
dunia dan akhirat, tidak memperoleh kedekatan dengan Tuhannya dan tidak
mendapat ridha-Nya. Sesuai dengan firman-Nya:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ
إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا
صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa
seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,
maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahf 110)
As-Siddiq
Benar disini ialah benar mengakui
bahwa tiada tuhan yang berhak di sembah keculai Allah SWT. Orang yang benar
mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya tuhan yang wajib di sembah ialah
orang-orang yang beriman. Mereka dikatakan " beriman" karena mereka
melaksanakan pengakuan lisan yang dibenarkan oleh hati dan dipraktekkan oleh
anggota badan, jika tidak seperti itu sama saja hendak menipu. Sesuai dengan firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ
الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami
beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya
bukan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqoroh 8)
Al-Muhabbah
Cinta terhadap Laa Ilaaha Illallah tanpa
membenci sedikitpun dengan apa yang di tuntutkan di dalamnyasebagian manusia
yang sesat pikirannya masih saja ada yang menjadikan selain Allah sebagi Tuhan.
Mereka menyembahnya seperti menyembah Allah dan memeperlakukannya seperti
Allah. Akan tetapi orang yang beriman menerima hanya kepemimpinan Allah semata
dan tidak akan terputus ketaatannya pada Allah, sedangkan orang-orang musyrik
itu perwalian pada tuhan-tuhan mereka seringkali tergoncang saat mereka ditimpa
malapetaka lalu mencari perlindungan kepada Allah Swt. Manusia-manusia yang
menganiaya diri mereka sendiri, andai saja tahu siksa yang telah menanti mereka
di hari pembalasan ketika segala kerajaan ada pada-Nya, saat semuanya tunduk
pada Allah, pasti mereka akan menghentikan kejahatan dan dosa mereka, sebagaimana
firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ
كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى
الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada
Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika
mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah
semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”
(QS. Al-Baqoroh 165)
Al-qobul
Menerima di sini
ialah menerima setiap ketentuan Laa Ilaaha Illallah tanpa ada penolakan sedikitpun,
banyak orang baik di zaman dahulu maupun sekarang andai di bacakan kalimat Laa
Ilaaha Illallah mereka mengingkari dan tidak menerima dan mereka ini di kategorikan
sebagai orang yan sombong. sesuai dengan
firman-Nya:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
يَسْتَكْبِرُونَ
”Sesungguhnya mereka dahulu apabila
dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang
berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.” (QS. As-Saffat 35)
Al-Hamlu Bimuktadhoyaatiha
Syarat terakhir ialah bagian
melaksanakan, setelah kita mengetahui, yakin, ikhlas, cinta, dan menerima semua
ketentuan Laa Ilaaha Illallah maka kita harus juga melaksanakan semua
ketentuan-ketentuannya, karena orang yang memiliki iman atau keyakinan kepada
Allah SWT tidak hanya mengucapkan dengan lisan tetapi mempraktekkan dengan
anggota badan misalnya ibadah-ibadah seperti sholat, zakat, infak, Dll. Apabila
seseorang sudah mantap dengan syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah dan
melaksanakan semua tuntutannya maka segala urusannya akan di permudah dan di
bantu oeh Allah SWT. Sesuai dengan firman-Nya:
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang
dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”
(QS. Luqman 22)