• Kota Singkawang merupakan salah satu pecinaan di indonesia karena mayoritas penduduknya china, dan selebihnya Melayu, Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya.
  • Apa senjata seorang muslim? Jawabannya adalah doa. doa membuat seorang muslim menjadi kuat imannya, menjadi semakin dekat dengan penciptanya, menjadikannya sosok manusia yang tidak sombong atas segala sesuatu yang sudah dimilikinya.Do’a Inilah yang membuat seorang muslim kuat di dunia maupun di akhirat.
  • Seringkali kebaikan seseorang mudah terlupakan oleh kita dan kita hanya mengingat keburukan orang tersebut. Sadarlah wahai saudaraku, janganlah engkau melupakan kebaikan saudaramu hanya karena satu keburukan yang dia lakukan.
  • Sejarah mencatat, tidak ada suatu bangsa di dunia yang dapat tumbuh dan menjadi negara besar dan kuat tanpa fondasi idiologi yang kokoh. “Amerika, China, dan Jepang adalah contoh negara-negara maju di dunia yang memiliki fondasi idiologinya masing-masing yang kokoh.” Ujar puan di hadapan sejumlah calon dubes RI di kementrian Luar Negri, Rabu (11/11/2015)
  • Harapan saya untuk tahun ini ialah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya dalam segala aspek, semoga kita semua bisa memanfaatkan waktu yang di berikan Allah SWT dengan sebaik-baiknya, sehingga kita tidak akan menyesal baik di dunia dan d akhirat.

Selasa, 21 Maret 2017

Kemasyarakatan Islamiyah




Oleh: Muhammad Thoyyibi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehdirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kamiberhasil menyelesaikan Makalah ini yang berjudul “AQIDAH ISLAM”
Makalah ini berisi tentang pengertian Islam atau yang lebih khususnya membahas pengertian Islam,  ciri-ciri khas Islam, dan peta kehidupan manusia dari masa kelahiran sampai masa kematian.
Saya menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan karya tulis ini.
Akhir kata  kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan Makalah ini dari awal samapai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.
Cilelungsi, 24 november 2016


















BAB 1
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Segala sesuatu yang Allah SWT ciptakan bukan tanpa sebuah tujuan, Allah SWT menciptakan bumi beserta isinya, menciptakan sebuah kehidupan di dalamnya  bukanlah tanpa tujuan yang jelas, sama halnya dengan Allah SWT  menciptakan manusia. Manusia di ciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah di bumi untuk mengatur dan mengelola apa yang ada di bumi beserta segala sumber daya yang ada.
Di samping kita sebagai manusia harus pandai-pandai mengelola sumber daya yang ada, sebagai seorang manusia juga tidak boleh lupa akan kodratnya yakni menyembah sang pencipta yakni  Allah SWT, karena itu manusia harus mempunyai aqidah yang lurus agar tidak menyimpang dari apa yang di perintahkan Allah SWT.
Penyempurnaan Aqidah yang lurus tak luput dari aqidah yang benar kepada malaikat-malaikat Allah SWT, kitab-kitab yang di turunkan oleh Allah SWT kepada Rosul-rosul Allah untuk di sampaikan kepada kita para umat manusia dalam bentuk Agama Islam.
2.      Rumusan Masalah
·         Apa itu peta kehidupan?
·         Apa pengertian agama?
·         Apa pengetian islam?
·         Apa saja ciri-ciri khas agama islam?
3.      Tujuan Penulisan
Makalah ini di tulis dengan tujuan agar kita lebih memahami apa itu islam secara bahasa maupun istilah, yang di tinjau dari ayat-ayat Al-Qur’an, memahami apa saja ciri-ciri khas agama islam itu, dan mengerti islam itu adalah agama yang di turunkan Allah SWT untuk menyelamatkan umat manusia dari zaman kejahiliahan.




















BAB 2
PEMBAHASAN
1.      Peta kehidupan
 Peta kehidupan manusia ialah gambaran kehidupan seseorang dari lahir sampai mati, yang di dalamnya banyak ujian dan cobaan yang di berikan Allah SWT. Sebagaimana yang di gambarkan rosul, peta kehidupan itu seperti garis yang lurus, garis lurus menandakan kehidupan manusia itu dari masa lahir sampai mati, sedangkan ruang lingkup kehidupan itu di gambarakan seperti persegi panjang, yang artinya ruang lingkup itu terbatas, di gambarkan di persegi panjang itu ada garis panjang yang memotong di tengah persegi panjang itu,  dan garis itu melebihi batas garis persegi panjang. Garis yang melebihi batas inilah yang disebut angan-angan.
Dalam ruang lingkup kehidupan ada 3 urgensi kehidupan yatu Lahir, Mati,dan Angan-angan. dari ketiga urgensi tersebut lahir lah kesimpulan bahwa manusia hidup di batasi dengan waktu, dan apabila sudah habis waktu yang di berikan Allah SWT manusia akan memasuki fase kematian dan fase setelah kematian yaitu fase akhirat.
Sebagian dari manusia masih sering mansia-siakan waktu yang manusia miliki dalam hidup di dunia ini, dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Mungkin sebagian dari manusia ada yang berpikir, nanti saja, kalau sudah menjelang tua baru memperbaiki ibadah kepada Allah SWT. Padahal ini sangat salah, karena manusia tidak pernah tahu sampai kapan akan hidup di dunia ini. Manusia tidak bisa memastikan bahwa  akan hidup sampai tua nanti, bisa saja kematian mendatangi manusia saat masih muda belia. Karena itu sebelum terlambat, sebelum kematian datang, manusia harus memperbanyak kebaikan, jangan menunda-nunda amal kebaikan, karena belum terntu besok manusia masih punya waktu untuk melaksanaknnya, dan alangkah sangat di sesali apabila dalam hidup yang singkat ini, lebih banyak di lewati dengan hal-hal yang akan di sesali di akhirat nanti, karena waktu yang sudah lewat, tidak akan pernah kembali.
Selain setiap manusia memanfaat kan waktu dengan kebaikan. sebagai umat muslim juga harus saling mengigatkan sesama saudara muslim nya untuk senantiasa melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran pula agar menjadi orang-orang beruntung Dari abu said Al-khudri RA dia berkata" aku telah mendengar Rasullah SAW bersabda " barang siapa kalian telah melihat kemungkaran hendaklah dia mengubah dengan tangan nya, jika dia mampu maka ubahlah dengan lisan ( nasehat) danjika tidak mampu maka hendaklah mengubah nya dengan hati ( tidak senang dengan kemungkaran itu) dan itulah selemah-lemah nya iman" ( HR muslim)

Setiap manusia yang diciptakan Allah SWT. Memang ditakdirkan dengan umur yang berbeda-beda. Namun Allah SWT. memberikan kesempatan untuk menikmati waktu setiap hari yang sama, yaitu 24 jam atau 1.440 menit atau 86.400 detik. Manusia hanya dapat menggunakan waktu tersebut untuk tiga kemungkinan. Pertama, waktu tersebut dapat digunakan untuk hal kebaikan. Kedua,  waktu tersebut digunakan untuk melakukan hal yang buruk. Ketiga, waktu tersebut akan terbuang dengan sia-sia tanpa melakukan hal apapun. Tiga kegiatan tersebut adalah kemungkinan kegiatan yang akan dilakukan oleh manusia.

Sebelum melakukan kegiatan, tentunya setiap manusia khususnya sebagai seorang muslim harus dapat mempertimbangkan manfaat yang akan didapat dari penggunaan waktu tersebut. Selain manfaat, risiko yang akan dihadapi tentunya harus dipertimbangkan karena setiap waktu yang akan digunakan harus mampu dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Jika waktu yang kita gunakan untuk hal kebaikan maka kegiatan tersebut akan menambah amal kebaikan kita dan sebaliknya. Namun jika waktu dibuang dengan sia-sia seperti melamun, terlalu banyak tidur, bermalas-malasan makan kita tidak akan mendapatkan apapun.

Oleh sebab itu pemanfaatan waktu harus digunakan dengan sebaik mungkin agar waktu tersebut menjadi bermanfaat dan dapat menambah amal kebaikan bagi kita semua. Menjadi baik atau jahat adalah suatu pilihan hidup. Semua itu dapat dilihat dari bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu kita dan berpikir sebelum bertindak agar tidak terjadi penyesalan di khir nanti.
2.      Pengertian Agama Islam
1.      Pengertian Agama
·         Al-Mulk (kekuasaan)
Pengertian agama dalam islam yang pertama ialah Al-Mulk (kekuasaan), di katakan kekuasaan di sini memliki pengertian yaitu manusia di tuntut untuk bisa mengendalikan diri agar bisa menguasai hawa nafsu menggunakan kecerdasan emosional dan spritual yang di berikan Allah SWT kepada setiap manusia.
Sebagaimana sabda Rosulullah SAW “Orang yang pintar adalah orang yang menguasai hawa nafsunya dan bekerja untuk hari setelah mati” maksud dari hadits ini ialah manusia yang bisa menggunakan kecerdasan emosional dan spritualnya untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu dan banyak beramal kebaikan untuk bekal di akhirat kelak sehingga mendapat balasan surga di sisi Allah SWT.
·         Al-Khudu’ (tunduk)
Pengertian agama dalam islam yang kedua ialah Al-Khudu’ (tunduk), tunduk disini berarti dalam agama islam manusia harus tunduk dan patuh dalam aturan/undang-undang agama islam, sehingga apabila sesorang masuk agama islam mereka harus tunduk dan patuh dalam syariat-syariat islam sebagaimana Firman Allah SWT yang artinya:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa/4;65).
·         Al-jaza’ (pembalasan)
Pengertian agama dalam islam yang ketiga ialah AL-Jaza’ (pembalasan), pembalasan di sini ialah hari pembalasan (kiamat), seseorang yang sudah beragama islam wajib mempercayai akan adanya hari pembalasan dan percaya bahwa Allah SWT  yang memliki hari pembalasan tersebut sebagai mana Firman-Nya yang artinya:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (2) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, (4) Yang menguasai hari pembalasan” (Al-Fatihah/1:1-4)
·         An-Nadzom (undang-undang)
Pengertian agama dalam islam yang ke empat ialah An-Nadzom (undang-undang), dalam agma wajib adanya undang-undang/aturan yang mengatur umatnya, dalam agama islam di namakan syariat-syariat islam yang wajib di patuhi seseorang yag memeluk agama islam sebagaimana firman Allah SWT yang Artinya:
“Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (yusuf/12:76)
2.      Pengertian Islam
·         As-Salam (selamat)
Islam adalah agama yang selamat, di sini berarti agama islam itu agama yang menyelamatkan manusia baik di dunia (dari zaman kegelapan samapai ke zaman penuh cahaya) maupun di akhirat (masuk surga bukan neraka) tetapi harus mematuhi syariat-syariat yang terkandung dalam agama islam sebagaimana fiman Allah SWT yang artinya:
“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah/5:16)
·         As-silm (damai)
Islam adalah agama damai yang mencintai kemanusian, ia membawa rahmat dan kedamaian ke seluruh alam, bahkan dalam keadaan bermusuhan, islam tetap mengajarkan kejujuran prilaku dan perilaku yang adil, sebgaimana yang terdapat dalam firman Allah SWT:
“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (qs.Muhammad/47:35)
·         Adzillu wal Khudu’ (tunduk dan pasrah)
Allah menciptakan manusia dan segala isi dunia tidak lain untuk beribadah, dan ibadah tak lain adalah bukti ketundukan dan kepasrahan secara total seorang hamba kepada penciptanya sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa/4;65).
3.      Ciri-ciri khas Agama Islam
·         Ar-Rabbaniyah (ketuhanan)
Dinul islam berarti sederhana yaitu agama islam. Ciri khas dari dinul islam sendiri adalah Ar-Rabbaniyah. Mengapa disebut rabbaniyah. Karena dinul islam adalah agama yang datang langsung dari Allah SWT. Dinul islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi Allah SWT. Karena satu-satunya agama yang diakui dan diridhoi Allah SWT maka jelas akan tujuan dinul islam adalah membuat seluruh umat manusia di muka bumi ini hanya menyembah kepada Allah SWT saja. Tujuan ini juga dimuat jelas dalam firman Allah SWT:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-dzariat/51:56)
·         Al-Insaniah Al-alamiah (kemanusian dan universal)
Yang dimaksud dari insaniyah alamiyah disini adalah dinul islam bersifat kemanusiaan serta universal. Dinul islam diturunkan untuk dianut semua kaum di muka bumi, tanpa terkecuali. Dinul islam bersifat universal dan bisa diterapkan pada seluruh kebudayaan di dunia, sebagaiaman firman Allah SWT:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya/21:107)
·         As-Syumuliah wa At-Takamaliah (lengkap dan mencakup)
Syumuliyah berarti lengkap. Tidak seperti pada agama lain, dalam dinul islam seluruh aspek kehidupan sudah ditetapkan. Dinul islam adalah agama paling lengkap di muka bumi ini. Bahkan dalam hal pekerjaan baik kecil maupun besar sudah ditetapkan dan diterangkan mengenai hukum-hukumnya sebagaimana dalam firman Allah SWT:
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.(QS. Al-An’am/6:38)
·         Al-Basatoh (agama yang mudah)
Al-Basathah berarti mudah. Dinul islam menghendaki kemudahan bagi seluruh pengikutnya. Dinul islam tidak membebani pengikutnya bahkan dalam hal ibadah karena sudah disesuaikan dengan kemampuan hambanya. Pada dasarnya, tidak ada kesulitan untuk mengerjakan kewajiban dan ibadah dalam islam sedikitpun sebagaimana firman Allah SWT:
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. AL-Baqoroh/2:185)
·         Al-Ngadalah (keadilan yang mutlak)
Al-Adalah berarti keadilan mutlak. Yang dimaksud disini adalah dinul islam ajarannya mengajarkan manusia untuk mencapai persaudaraan yang mutlak. Manusia dilarang saling menyakiti, mendzalimi, atau melakukan hal buruk yang merugikan saudaranya. Manusia juga disarankan untuk memaafkan segala perbuatan saudaranya yang telah menyakiti hati daripada balas dendam. Islam adalah agama yang sangat cinta damai sebagaimana firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. AL-Maidah/5;8)
·         At-Tawazun (keseimbangan)
Tawazun berarti keseimbangan. Seorang muslim haruslah bisa menjaga keseimbangan antara kepentingan umum dan pribadi. Tidak hanya itu saja, dinul islam juga mengajarkan bahwa sebaiknya seorang muslim mampu menjaga keseimbangan antara badan dan jiwa, serta kepentingan dunia dan akhirat. Janganlah seorang muslim berat pada salah satu bagian saja karena akan merugikan diri sendiri, sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash/28:77)
·         Al-Jam’u  Baina As-Tsubut  wa Al-Murunah (perpaduan antara yang tsubut/tetap dan yang menerima perubahan)
Maksud tsubut pada pokok-pokok dan tujuannya dan murunah pada cabang, sarana dan cara-caranya, sehingga dengan sifat murunahnya dan lain-lain dapat menyesuaikan diri dan dapat menghadapi perkembangan zaman serta sesuai dengan segala keadaan yang baru timbul. Dan dengan sifat terebut tsubut pada pokok-pokok dan tujuannya tidak dapat larut dan tunduk terhadap persoalan jaman dan perputaran waktu.

BAB 3
KESIMPULAN
1.      KESIMPULAN
·         Waktu adalah kesimpulan yag dapat di ambil dari 3 urgensi kehidupan manusia (lahir, mati, angan-anagan). Tergantung bagaimana seseorang memanfaatkan waktunya sebaik-baiknya selaam hidupnya untuk berbuat amal kabajikan sehingga akan selamat baik d dunia maupun di akhirat kelak.
·         islam merupakan agama yang bersumber dari Allah SWT, bukan bersumber dari ideologi-ideologi manusia, dan d sampaikan melalui Rosulullah SAW dan tertuang dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an
·         islam memiiki arti tunduk/pasrah, berserah diri, dan damai, ini berarti dalam islam seseorang wajib tunduk kepada Allah SWT dan aturan-aturan di dalam islam.
·         Art damai di sini melambang bahwa agama islam merupakan agama yang damai, agama yang dalam ajarannya membawa perdamaian untuk semua manusia di bumi.
·         Islam adalah agama yang lurus yang di ajrkan kepada Nabi Ibrahim dan para nabi setelahnya, serta di tutup dengan keberadaa nabi terakhi Nabi Muhammad SAW.
·         Islam merupakan agam rahmatan lil alamin yang berarti agama yang di turunkan bukan hanyakepada satu kaum, tetapi di turunkan untuk semua yang ada di alam semesta ini.
·         Allah menurunkan Islam ini secara sempurna dan menyeluruh sehingga tidak ada satu persoalan pun yang menyangkut kehidupan manusia yang tidak diatur. Islam memuat aspek hukum –halal-haram, mubah-makruh, fardhu-sunnah—juga menyangkut masalah akidah, ibadah, politik, ekonomi, perang, damai, perundangan, dan semua konsep hidup manusia.Begitulah yang Allah katakan tentang Al-Qur’an. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu. (An-Nahl: 89). Dan sebagai pemerinci terhadap segala sesuatu. (Al-A’raf: 145)

Referensi makalah:
·         Ustadz Abul Hidayat Saerodji
·         Tafsir jalalayn
·         Quraiys Shihab
·         Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/04/02/146/islam-agama-sempurna/#ixzz4RMPMZWYk

Contoh Makalah Pengaruh Aqidah Islam Terhadap Pribadi Seorang Muslim


KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehigga  saya berhasil menyelesaikan makalah ini yang berjudul “PENGARUH AQIDAH ISLAMIYYAH DALAM PEMBINAAN PRIBADI SESEORANG”
BAB I
PNDAHULUAN
1.       LATAR BELAKANG
 Segala sesuatu yang Allah SWT ciptakan bukan tanpa sebuah tujuan. Allah SWT menciptakan bumi  da menciptaka kehidupan di dalamnya bukanlah tanpa tujuan yang jelas, sama halnya dengan Allah SWT menciptakan manusia. Manusia oleh Allah SWT sebaga khalifah di bumi untuk mengatur dan mengelolaapa yang ada di bumi beserta segala sumber daya yang ada.
Di samping kta sebagai manusia harus pandai-pandai mengelola sumber daya yang ada,sebagai manusia juga tidak boleh lupa kan kodratnya yakni percaya adanya Allah SWT dan menyembah-Nya. Karena itu manusia harus mempunyai aqidah yang lurus agar tidak menyimpang dari apa yang di perintahkan Allah STW.
Perumpamaan Aqidah yang lurus tak luput dari aqidah yang benar kepada Allah SWT, kepada malaikat-malaiat Allah SWT, kitab-kitab yang di turunkan ole Allah SWT kepada rosul-rosul Allah untuk di sampaikan kepada kita para uma manusia dalam bentuk Agama Islam.
2.       RUMUSAN MASALAH
·         Apa pengaruh aqidah islam terhadap pembinaan pribadi seseorang?
·         Apa saja sifat-sifat yang menonjol dari seorang hamba yang memiliki Aqidah yang shahih?
3.       TUJUAN PENULISAN
Makalah ini di tulis dengan tujuan agar kita mengetahui apa-apa saja pengaruh Aqidah islam yang lurus terhadap kepribadian seorang muslim dan pengaruhnya dalam pembinaan ummat islam saat ini, dengan mengetahui apa-apa saja hal yang menonjol dari orang yag memiliki aqidah yang lurus ini, kita dapat mengevaluasi diri sendiri, apakah Aqidah kita sudah lurus  karena Allah SWT atau bukan.








BAB 2
PEMBAHASAN
Salah satu elemen penting dalam ajaran Islam adalah aqidah. Aqidah ini merupakan persoalan mendasar yang harus diyakini seorang Muslim sebelum ajaran-ajaran lainnya. Ibarat tali kekang, aqidah mengendalikan seorang Muslim agar tidak berjalan tanpa arah yang jelas. Sebaliknya, aqidah akan mengarahkan seorang Muslim menuju satu tujuan yang dicita-citakan. Terminal dari aqidah adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Tidak hanya ajaran yang bersifat normatif, aqidah juga memberikan efek positif dalam kehidupan seorang Muslim. Aqidah yang shahih dalam pribadi seorang muslim mampu mempengaruhi sikap dan pandangan hidupnya shari-hari, Oleh sebab itu ada hal-hal yang menonjol dari beberapa pengaruh aqidah yang shahih terhadap diri seseorang (muslim)
1.       Merdeka
Kemerdekaan adalah karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, nikmat kemerdekaan harus terus disyukuri dan dimaknai lebih dalam dari hanya sekedar peringatan belaka. Bukan lantaran kemerdekaan dicapai dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga saja, namun karena kesadaran kita juga bahwa kemerdekaan itu tak akan mungkin tercapai tanpa campur tangan dan karunia Allah Dzat yang Maha Kuasa. Pengertian merdeka di sini tidak hanya berarti merdeka dari penjajahan manusia yang dzalim atau merdeka karena merasa dirinya bebas dari tuntutan dunia tapi arti merdeka yang sesungguhnya ialah merdeka yang lepas dari penghambaan diri kepada segala bentuk thagut (Tuhan Selain Allah SWT), sebagai mana firman Alah Swt di bawah ini:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدً
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisa: 60)
Harta, kekuasaan, jabatan, uang, kesenangan, kemewahan, fasilitas hidup, mode, mistik, jimat, perdukunan, ramalan bintang, perjudian online, narkoba, seks bebas, dan tayangan-tayangan media yang menyesatkan dewasa ini sudah menjadi sosok-sosok monster yang merongrong aqidah kaum muslimin. Taghut tidaklah semata-mata dipahami sebagai sesosok berhala dan patung yang disembah dan dikeramatkan sebagaimana dikenal pada masa-masa awal turunnya Islam. Namun pada hakikatnya, thaghut dapat berbentuk apa saja yang membuat hati dan pikiran manusia merasa condong dan memuliakannya, bahkan mencintainya melebihi cintanya kepada Allah SWT. Oleh karena itu apabila serang manusia sudah memiliki Aqidah yang shahih maka wajar dia tidak akan terpengaruh dari segala bentuk thagut yang menyesatkan dan menjauhkan diri seseorang kepada Allah SWT. Hidupnya akan di habiskan untuk menghambakan iri kepda Allah SWT tanpa pernah menyukutukan-Nya dari segala bentuk thagut.
2.       Kemuliaan/Harga diri (Izzah)
Izzah merupakan kemuliaan/kekuatan yang di berikan kepada hambanya sesuai kedekatannya kepada Allah SWT, sesuai dengan tingkat Aqidah yang terdapat dalam diri seseorang. Semakin dekat dengan Allah SWT maka seorang hamba tersebut semakin memiliki Izzah. Karen izzah adalah milik Allah SWT, Rosulnya dan oarag-orang yang mukmin  Sesuai dengan Firman Allah SWt:
يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.”
Kebanyakan manusia tdk mengetahui cara mencari izzah. Ada yg mncari lewat titel, kedudukannya, ada juga yang melalui harta kekayaan. Mereka silau terhadap gemerlapnya dunia dan seisinya lalu berlomba-lomba mencarinya. Sebagian kagum dengan budaya barat dan mengikuti’a. Sebab utama dari semua itu karena mereka lupa Allah, akibatnya menjadi lupa diri dan lupa misi, kemudian akhirnya mereka tidak memiliki izzah. Oleh karena itu apabila seorang muslim aqidahnya shahih dan dekat dengan Allah SWT niscaya Allah SWT akan memberikan izzah walaupun izzah tersebut tidak di peroleh dari titel yang didapat di dunia atau harta kekayaan yang di peroleh, semua itu tidaklah berarti apabila izzah yang datang kepada seorang musim di berikan langsung dari Allah SWT karena izzah dari Allah SWT akan lebih mulia dari Izzah yang didapat dari titel maupun kekayaan.
3.       Ketenangan (Ath-Thuma’ninah)
Thuma’ninah berarti tenang, tidak terburu-buru, dan bisa juga berarti berhenti sejenak. Pengertian ini tidaklah salah kerena berhenti sejenak adalah tahap awal dari tenang. Tahap lanjut setelah hal tersebu ialah konidisi tenang, dimana biasanya banyak seniman seniman mendapatkan inspirasi saat dalam kndisi tenang begitu pula kita, kadang dalam kondisi tenang bisa memecahkan masalah masalah pelik yang sedang di hadapi. Sayangnya kondisi Thuma’ninah adalah sesuatu yang lumayan sulit di capai karena relatif membutuhkan waktu yang lama, karena manusia yang hidup di zaman sekarang maunya serba cepat dan instan.
Berhenti sejenak untuk menjernihkan pikiran, untuk memikirkan resiko dari perbutan yang akan di lakukan, untuk meredam hawa nafsu, dan untuk tidak melakukan perbuatan yang akan di sesali di kemudian hari adalah segala bentuk praktek Thuma’ninah. Tenang dan tidak tergesa-gesa, atau yang dalam bentuk paling sederhananya adalah berhenti sejenak merupakan salah satu bentuk pengendalian diri yang sangat penting, yang dapat di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, dan itu di mulai dari ibadah sholat. Sesuai dengan Firman Allah SWT:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Oleh karena itu seorang mu’min yang mempunyai thuma’ninah di dalam hatinya, maka dia akan berhenti sejenaj untuk merenungkan segala perubatan yang akan di lakukannya agar terhindar dari penyesalan dan dosa yang mungkin di dapat karena perbuatan menyimpang dari ajaran Agama Islam.
4.       Rasa Aman (Al-Amnu)
Dalam pandangan islam Aqidah yang shahih dimana hanya Allah SWT yang di sembah dan diesakan dan tidak menyukutukan-Nya dengan yang lain adalah syarat utama untuk terciptanya rasa aman dan tentram, dikarenakan kesadaran dan penghayatan dalam menyembah dan mengesakan Allh SWT akan melahirkan rasa aman dan tentram ke dalam setiap jiwa manusia. Hati menjadi tenang, sebagai buah kepercayaan bahwa hanya Allah yang merupakan Penguasa Tunggal dan Pengatur alam raya dan yang dalam genggaman tangan-Nya segala sesuatu dan tidak syirik kepadanya. Tidak ada yang dapat terjadi kecuali atas izin-Nya. Sesuai dengan Firman Allh SWT:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Maka bagi seorang mu’min yang Aqidahnya mantap dan shahih mereka akan mendapatkan rasa aman dan rasa di lindungi oleh Allah SWT, karena mereka tidak mencapur adukkan keimanan mereka dengan kedzaliman syirik kepada Allah SWT.
5.       Optimis ( At-Tafaul)
Optimis adalah suatu sikap yang sangat penting yang harus ada dalam setiap diri soeorang muslim, kaena manusia tidak bisa lepas dari konsekuensi kehidupan seperti penderitaan, kesedihan, kesulitan, kebahagiaan dan lain sebagainya, membuat sikap optimis merupakan komponen penting untuk membantu menyelesaikan konsekuensi kehidupan seorang manusia dengan bantuan Allah SWT tentunya.
Firman Allah SWT:
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُون
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”
Optimisme sangat diperlukan dalam kehidupan kita sehari-hari guna mancapai sebuah kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup di dunia dan di akhirat. Dengan adanya sikap optimis dalam diri setiap Muslim, kinerja untuk beramal akan meningkat dan persoalan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik. Doa,  ikhtiar, dan tawakal harus senantiasa mengiringi, kerena hanya dengan kekuasaan-Nya apa yang kita harapkan dapat terwujud.
6.       Barakah (Al-Barakah)
Barakah adalah kata yang diinginkan oleh hampir semua hamba yang beriman, karenanya orang akan mendapat limpahan kebaikan dalam hidup. Barakah bukanlah cukup dan mencukupi saja, tapi barakah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada Alloh.SWT dgn segala keadaan yg ada, baik berlimpah atau sebaliknya itulah barakah. Hidup yg barakah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barakah sebagaimana nabi Ayyub, sakitnya menambah taatnya kepada Allah,dan barakah itu tidak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Mus'ab bin Umair. Alah SWT akan selalu memberikan kebarakahan kepada hambanya yang beriman dan bertaqwa dan tidak mendustakan ayat-ayat-Nya, sebagaimana Firman Allah SWT:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Maka tidak heran bagi seorang muslim yang aqidahnya mantap dan shahih, kehidupannya jauh dari kata susah, karena kehidupan orng yang aqidahnya shahih baik dalam keadaan kurang ataupun dalam keadaan lebih, maka dia tetap bersyukur atas segala nikmat yang di berikan Allah SWT. Syukur ini lah yang menambah barakah nikmat yang Allah berikan kepada orang yang beriman dan bertaqwa.
7.       Berani ( Asy-syaja’ah)
Banyak arti kata pemberani, pemberani yang di maksud di sini ialah bukan hanya sekedar  berani untuk bertarung antar sesama manusia atau berani untuk melakukan hal yang sebelumnya belum pernah di lakukan, tapi arti berani di sini ialah berani yang  berlandaskan kebenaran atas nama islam, berani (Asy-syaja’ah) ialah salah satu cirii orang yang Aqidahnya shahih. Pemberani adalah orang yang berani membela kebenaran dengan resiko apapun dan takut untuk berbuat yang tidak benar.
Sifat berani ini dapat kita lihat dalam kisah sejarah para sahabat dalam membela dakwah di masa Rosulullah SAW. Dimana pada masa awal-awal dakwan Rosulullah SAW itu banyak di tentang oleh kaum kafir quraisy. Maka bagi orang yang memliki sifat pemberani seperti itulah maka pertolongan Allah SWT akan selalu bersama mereka yang bersifat pemberani, berani untuk membela yang hak dan berani untuk melarangi yang bhatil, karena Allah SWT bersama orang-orang yang berani sesuai dengan firman-Nya:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيم
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

8.       Mendapatkan Kepemimpinan (Al-Istikhlaf)
Al-istikhlaf ini adalah konsep dasar yang berkaitan dengan posisi manusia yang di berikan Allah SWT di muka bumi sebagai khalifah/pemimpin. Posisi khalifah adalah takdir kepemimpinan yang Allah berikan kepada manusia untuk mengelola kehidupan di muka bumi ini sesuai dengan ajaran Allah SWT. Untuk itu, Allah meletakkan berbagai potensi dan kemampuan yang dibutuhkan setiap manusia untuk mampu menjalankan kepemimpinannya. Banyak pihak memahami posisi khalifah sebagai kepemimpinan politik, dalam suatu bangunan negara misalnya. Pemahaman ini tidak salah, namun tidak utuh. Pada dasarnya posisi kepemimpinan ini melekat pada diri manusia dalam dimensi ruang, waktu dan keadaan apa saja. Posisi dan peran ini bisa dijalankan manusia atas dirinya sendiri, dalam ruang keluarga, masyarakat dan tentu juga negara.sebagaiman firman Allah SWT:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Secara tegas Allah telah menjanjikan sesuatu kepada orang-orang yang mempercayai kebenaran, tunduk kepadanya dan mengerjakan amal saleh. Yaitu, Dia akan menjadikan mereka sebagai pengganti orang-orang terdahulu yang mewarisi kekuasaan di muka bumi, seperti halnya orang-orang yang telah mendahului mereka. Allah juga akan meneguhkan bagi mereka agama Islam sebagai agama kepasrahan yang diridai-Nya. Dengan demikian, oarang yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT menjadi memiliki wibawa dan kekuasaan. Begitu pula Allah akan mengganti keadaan mereka dari rasa takut menjadi rasa aman, sehingga kalian dapat beribadah dengan tenang dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun dalam beribadah. Barangsiapa memilih untuk kafir setelah datangnya janji yang benar ini, atau keluar dari agama Islam, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang fasik, ingkar dan membangkang.
9.       Tawakal
Tawakal berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan. Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram. Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Sebagaimana firman-Nya:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
Dalam aya di atas terungkap bahwa oarang-orang yang taat kepada Allah WT dan Rosul-Nya maka mereka akan bertawakkal kepada Allah SWT, mereka percaya bahwa cukuplah Allah sebaga penolong dan sebaik-baik penolong.
BAB 3
KESIMPULAN & PENUTUP
Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dengan filsafat yang merupakan karya manusia, tentu banyak kelemahannya. Makanya seorang mu'min harus yakin kebenaran Aqidah lslamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan tindakannya yang akan menjamin kebahagiannya dunia akherat. Dan merupakan keserasian antara ruh dan jasad, antara siang dan malam, antara burni dan langit dan antara ibadah dan adat serta antara dunia dan akherat. Faedah yang akan diperoleh orang yang menguasai Aqidah lslamiyah adalah :
·         Membebaskan dirinya dari ubudiyah/ penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya kekuasaan, harta, pimpinan maupun lainnya.
·         Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka.
·         Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepad Allah (outer focus of control).
·         Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa , sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridho terhadap segala ketentuan Allah.
Aqidah Islamiyah adalah asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara miskin dan kaya, antara pinter dan bodoh, antar pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali takwanya disisi Allah SWT.
Sekian makalah saya tentang “PENGARUH AQIDAH ISLAMIYYAH DALAM PEMBINAAN UMMAT” lebih dan kurangnya saya mohon maaf dan saya sangat berharap kritik dan sarannya karena makalah yang saya susun ini masih jauh dari kata sempurna, Wassalamualaikum.
DAFTAR PUSTAKA
·         http://tafsirq.com/
·         https://www.hidayatullah.com